RSS

Change

source : grafa.blog.com

 
 
Should I call your name?
Should I?
Hope that You will come without I call You.
But that won’t happen. It seems that
You far away for me.
So far away!
Okay, that’s my mistake.
I stay away from You for a long time.
 
First, I miss You.
I feel so empty now.
Empty.
Empty.
And empty.
Don’t know what should I do.
I need You.
I need Your hugs.
Your warm hugs.
That will be make me so peaceful.
 
Maybe You think that I’m still like a child.
Not a mature one.
Yap, sometime I’m so childish.
But I want to change myself.
Be a better person.
Be a mature one.
Be a real women.
 
You.
I keep praying on You.
You’re the one and the only one that I trust.
Give me a chance.
Chance.
Chance.
And chance.
 
Thanks for has been listening.
Thanks for has been keeping me.
Thanks for has been loving me.
Thanks for all the things.
I promise that I will be a better person.
Love You.
 
 
Leave a comment

Posted by on February 2, 2012 in Campur Aduk

 

Tags: , ,

Dua Ribu Saja

Sabtu, 21 Januari 2012 pukul 21.00 WIB bersama seorang sahabatku, Erika Nur Sabrina, bermain di Sekaten –biasa orang menyebutnya– yang terletak di Alun-alun Utara Kraton Yogyakarta. Malam itu sangat ramai, mengapa? Ya, karena itu malam Minggu. :P

Berjalan mondar-mandir bersama Brina –sahabatku biasa disapa. Banyak orang berjualan seperti pakaian, sandal, sepatu, makanan, dan lainnya. Permainan pun juga banyak. Namun di antara sekian banyak orang berjualan, aku melihat sosok orang yang bisa dibilang sudah tua renta sedang berjualan di dalam ruang tunggu permainan Dream Molen –Bianglala versi mini. Ku datangi dan membeli salah satu yang dijualnya.

“Mbah, ini harganya berapa?” tanyaku menunjuk kacang bungkusan yang dijualnya. Aku bertanya menggunakan Bahasa Jawa Krama sebisaku. “Dua ribu,” jawabnya. Langsung ku membelinya dan memberikan uang dua ribu itu kepadanya.

Wanita. Tua renta. Sendirian. Marto namanya. Ia sudah berumur 90 tahun. Asal Gemblangan, Bantul. Terlihat ia sedang menyusun barang dagangannya di atas tenggok  –bakul kecil yang terbuat dari bambu. Ia juga membawa payung. Dalam hati aku bertanya,”Kemana anaknya? Kemana cucunya? Kemana mereka semua? Sampai orang tua ini harus berjualan demi kelangsungan hidupnya?”

Duduk di samping simbah –bahasa Jawanya nenek– itu sambil makan kacang yang ku beli darinya. Orang-orang memandang aneh padaku dan temanku. Mungkin mereka berpikir mengapa sampai aku peduli dengan orang tua itu. Terserah apa pikiran orang! Haha.

“Ini apa mbah?” tanyaku lagi sambil menunjuk barang jualannya yang berbentuk seperti salah satu sesajen. “Ini telur,” jawabnya singkat. Simbah itu susah untuk mendengar, namun masih bisa diajak untuk berbincang. Ia menjual kacang dan telur. Telur itu berwarna merah dan ditusuk bambu. Keduanya dihargai dua ribu saja. “Telur ini untuk apa mbah?” tanyaku. “Untuk syarat,” jawabnya. Biasanya telur-telur ini memang dijual saat ada Sekaten. Ketika ditanya berapa banyak yang sudah terjual hari ini, ia menjawab sudah terjual enam belas.

“Jualan dari jam berapa mbah.”

“Sejak Ashar.”

“Sampai jam berapa?”

“Pagi.”

“Lalu, pulangnya bagaimana? Ada yang jemput?”

“Tidak. Pulang sendiri. Pulang ke Gondomanan. Jalan.”

Simbah itu berangkatnya memang diantar. Entah diantar siapa. Namun saat pulang, ia pulang sendirian. L

“Lha anaknya kemana? Cucunya?”

“Tidak ada.”

Simbah itu mencoba menjelaskan kalau anaknya tidak ikut jualan. Namun ia mempunyai dua anak.

Saat sedang bertanya dengan simbah, ada ibu-ibu yang mau membeli kacang. Ia bertanya berapa harganya. Ku jawab kalau itu hanya dua ribu saja. Ibu itu langsung membayarnya. Tak lama kemudian ada seorang lelaki yang membeli kacang juga. Ia memberikan uang lima ribu. Simbah mencari-cari uang receh. “Kembaliannya untuk simbah saja,” kata lelaki itu sambir tersenyum lalu pergi. “Terimakasih,” kata simbah. Ah, baik sekali orang itu. Semoga dia tulus memberikannya.

Ya Tuhan. Orang tua seperti itu masih berjuang demi hidupnya. Rela berjualan sampai pagi walapun keuntungan yang dia dapatkan tak seberapa.

 
Leave a comment

Posted by on January 22, 2012 in Artikel

 

Tags: ,

Setetes Darah Demi Kehidupan

 

Saat itu aku sedang berbincang-bincang dengan Deni –salah satu kawan di Sekretariat LPM Journal. Kami membicarakan tentang suatu keluarga. Ya, saat itulah handphone-ku berdering. Telepon dari ibuku. Jarang sekali ibuku menelepon kalau tidak dalam keadaan darurat. Kuangkat.

“Mbak, temanmu ada yang golongan darahnya B gak? Tante Martini butuh tranfusi darah. Butuh 6 kantong,” kata ibuku di telepon.

Ya Allah. Aku panik! Tanteku butuh tranfusi darah (lagi). Enam kantong. ENAM KANTONG! Bukan jumlah yang sedikit. Palang Merah Indonesia (PMI) Yogyakarta pun sedang kehabisan stok golongan darah B. Makin panik!

Ku tanya kawan-kawan di sekitarku itu. Ada satu orang yang bergolongan darah B. Iok namanya. Namun dia sedang tidak bisa mendonorkan darahnya. Seketika juga ku hentikan pembicaraanku dengan Deni. Sibuk menyebarkan pesan bahwa tanteku sedang butuh pendonor darah B secepatnya.

Butuh pendonor darah golongan B untuk tanteku yang sakit. Yang domisili  Joga. Hubungi secepatnya Bu Narti +62274xxxxxxx | Kita butuh enam kantong.

Terimakasih,

Ika

Pesan itu kukirimkan melalui Blackberry Messenger (BBM) dan SMS. Tak berapa lama, sahabatku Irma membalas pesanku. “Temanku ada nih. Rumah sakit mana kan?” balasnya. Kuberitahu kalau posisi tanteku sedang di opname di Rumah Sakit Sardjito Yogyakarta. Tak lupa memberikan nomor handphone ibuku itu.

Ku sms ibuku. Memberitahukan bahwa ada yang mau mendonorkan darahnya. Tak lama setelah menerima smsku, ibuku langsung menelepon. “Ada lagi yang mau mendonorkan darahnya? Belum mendapatkan pendonor darah lagi. Tapi sudah mencoba menghubungi orang-orang Pondok Pesantren Wahid Hasyim. Katanya mau pada ke Sardjito. Temanmu tadi sudah sms ibu,” ucap ibuku di telpon. “Ini sedang tak carikan orang lagi. Siapa tau ada yang mau donor,” jawabku singkat. “Yasudah, nanti ibu hubungi lagi,” ucap ibuku lagi dan kemudian menutup teleponnya.

Masih berurusan dengan BBM dan SMS. Berusaha untuk login di twitter, tapi sinyal tidak mendukung. Huft! Dan aku baru ingat kalau bisa menggunakan wifi. Cepat-cepat ku sambungkan ke wifi. Lalu membuka twitter. Aku langsung mengirim pesan ke @jogjaupdate @justsilly dan @BloodForLifeID. Berharap ada orang yang mau mendonorkan darahnya untuk tanteku.

Selang beberapa jam. Ku tanya ibuku tentang keadaan tanteku. “Bu, sudah dapat 6 kantong belum?” tanyaku. “Sudah,” jawab ibuku singkat. Alhamdulillah. Terima kasih Ya Allah! Engkau masih sayang kepada tanteku. Lega rasanya mendengar berita itu. ^^

Bulan Oktober lalu, tanteku juga opname. Ia opname di Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta. Hasil cek laboratorium menunjukkan bahwa tanteku menderita penyakit Anemia –kekurangan darah. Awalnya dokter mengkhawatirkan kalau tanteku menderita penyakit Mioma –tumor rahim. Namun ternyata bukan.

Waktu di Panti Rapih, tanteku juga harus ditranfusi darah sebanyak enam kantong. Awalnya hanya dua kantong. Namun kondisi tanteku memburuk. Kadar Hemoglobin (hb) dalam tubuh tanteku terus menurun sehingga diperlukan tranfusi lagi sebanyak empat kantong.

Beberapa hari kemudian, keadaan tanteku mulai membaik dan diperbolehkan pulang. Namun selang beberapa minggu dari pulangnyaitu, tanteku harus di opname lagi karena kadar hb menurun lagi. Sedih sekali! Kali ini dokter menyarankan untuk opname di Sardjito.

Terima kasih untuk semua orang yang telah mendonorkan darahnya untuk tanteku. Darah kalian begitu berarti! Darah kalian mengalir dalam tubuh tanteku. Kalian telah menyelamatkan tanteku. Terimakasih banyak! Kalian semua saudaraku! Dan tetap berharap supaya tanteku cepat sembuh. Cepat pulang dari rumah sakit dan bisa berkumpul lagi dengan keluarga kami. Amin! ^^

 
2 Comments

Posted by on December 8, 2011 in Artikel, Campur Aduk

 

Tags: , ,

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,533 other followers